Menemukan informasi untuk bahan diskusi melalui membaca intensif

Juni 8, 2010 rimamaylestari

Membaca Intensif

Membaca intensif merupakan kegiatan membaca bacaan secara teliti dan seksama dengan tujuan memahaminya secara rinci. Membaca intensif merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan dan mengasah kemampuan membaca secara kritis. Tarigan (1990:35) mengutip pendapat Brook menyatakan bahwa, membaca intensif merupakan studi seksama, telaah teliti, serta pemahaman terinci terhadap suatu bacaan. Yang termasuk membaca intensif ini adalah membaca pemahaman.

Fakta dan Opini

Fakta ialah segala sesuatu yang tertangkap oleh indra manusia. Catatan atas pengumpulan fakta disebut data. Fakta seringkali diyakini oleh orang banyak (umum) sebagai hal yang sebenarnya, baik karena mereka telah mengalami kenyataan-kenyataan dari dekat maupun karena mereka dianggap telah melaporkan pengalaman orang lain yang sesungguhnya.
Opini publik adalah pendapat kelompok masyarakat yang diperoleh dari suatu diskusi sosial dari pihak-pihak yang memiliki kaitan kepentingan. Dalam menentukan opini publik, yang dihitung bukanlah jumlah mayoritasnya namun mayoritas yang efektif.
Subyek opini publik adalah masalah baru yang kontroversial dimana unsur-unsur opini publik adalah: pernyataan yang kontroversial, mengenai suatu hal yang bertentangan, dan reaksi pertama/gagasan baru.

Ide pokok

Ide pokok yaitu ide pembicaraan atau masalah yang bersifat abstrak. Ide pokok biasanya berupa kata, frase atau klausa.

Bacalah teks di bawah ini dengan menggunakan teknik membaca intensif !

Kesenian Tradisional “Nandeh” Bengkulu Punah

Januari 12, 2010 pada 2:39 am

Salah satu kesenian dari kebudayaan masyarakat Bengkulu, yakni Nandeh, saat ini punah tergilas kesenian moderen, padahal sebelumnya sangat populer di mata masyarakat umum.“Kesenian yang berasal dan berkembang di wilayah Talo, Masmambang, Manna, hingga Kaur itu di zaman dulu hampir ada di setiap acara warga yang sedang berduka,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu, Drs Agus Setiyanti, Minggu.

Sekarang ini, tidak ada lagi warga penerus yang berprofesi sebagai pelakon Nandeh tersebut, sedangkan untuk menghidupkan kembali sulit mencari sejarah dan cerita budaya Nandeh itu. Kesenian Nandeh, katanya, adalah seni bertutur atau berdongeng, untuk menghibur warga yang sedang dilanda musibah, baik ditinggal kerabat terdekat ataupun musibah alam.

Seorang pelakon Nandeh mirip dalang yang bercerita atau pun berdongeng kepada warga yang terkena musibah tersebut, sedangkan dongeng yang diceritakan bertemakan perjuangan dan kejayaan dari para nenek moyangnya terdahulu serta diselingi dengan cerita lucu, sehingga warga terhibur dan duka yang dialami menjadi terlupakan.

Menurut Agus, seorang penutur Nandeh akan bercerita seperti setengah menyanyi dan bertutur seperti meratap, serta layaknya dalang di Pulau Jawa, penutur Nandeh juga menggunakan properti yaitu sebilah kayu atau bambu yang berukuran satu meter untuk menopang dagu nandeh.

“Jika di pulau Jawa kesenian wayang terus mengalami modifikasi, baik itu dalam properti yang digunakan seperti wayang terbuat dari karet lentur, sedangkan isi cerita yang dilakonkan terus berubah mengikuti perkembangan zaman dan masih diterima sampai sekarang,” katanya.

Namun, kesenian Nandeh justru mengalami gempuran dari media elektronik yang selalu mengadakan acara beraneka ragam pilihan, akibat kemanjuan teknologi yang membuat jangkauan siaran saat ini hampir merata dapat diterima di seluruh pelosok Nusantara.

“Tidak adanya sumber daya manusia yang berprofesi sebagai Nandeh juga semakin memperburuk keadaan, apalagi kebiasaan seorang kakek bercerita kepada anak cucunya sebelum tidur saat ini sudah hilang dan tidak lagi diberlakukan,” katanya.

Menanggapi keadaan seperti ini Disbudpar Bengkulu mencoba membangkitkan kembali budaya-budaya lama agar dapat bertahan dan berkembang di Bengkulu, dengan mengadakan festival kesenian yang bertemakan “Menyibak Masa Lalu dan Membuka Tabir Masa Depan.”
“Semua kesenain asal Bengkulu akan dipertontonkan pada kegiatan tersebut,” tambahnya.

Kompas, 12 Januari 2010


TUGAS!!!

1. Bacalah teks bacaan di atas yang berjudul Kesenian Tradisional “Nandeh” Bengkulu Punah.
2. Kemudian temukan fakta, opini, ide pokok, dan nilai-nilai yang terkandung dalam teks tersebut !

TUGAS PALING LAMBAT DIKIRIM PADA TANGGAL 9 JUNI 2010!!!

About these ads

Entry Filed under: Uncategorized

2 Comments Add your own

  • 1. aeywiduriwulandari  |  Juni 9, 2010 pukul 9:06 am

    Assalamualaikum,,,

    Bu, ini tugas saya :

    Ide Pokok dari tiap-tiap paragraf :

    Paragraf 1 :
    Salah satu kesenian daerah Bengkulu yaitu Nandeh sudah punah.

    Paragraf 2:
    Tidak adanya lagi penerus untuk menghidupkan kembali kesenian Nandeh.

    Paragraf 3:
    Pelakon Nandeh mirip dalang bercerita atau berdongeng, sehingga dapat menghibur orang banyak.

    Paragraf 4 :
    Seorang penutur Nandeh bercerita seperti setengah menyanyi dan bertutur seperti meratap.

    Paragraf 5 :
    Kesenian wayang banyak dimodifikasi dan isi ceritanya mengikuti perkembangan zaman.

    Paragraf 6 :
    Akibat kemajuan teknologi, Nandeh mendapatkan gempuran dari media elektronik.

    Paragraf 7 :
    Tidak adanya sumber daya manusia yang berprofesi sebagai Nandeh semakin memperburuk keadaan kesenian ini.

    Paragraf 8 :
    Upaya yang dilakukan Disbudpar Bengkulu yaitu mengadakan festival kesenian.

    Fakta :
    “Kesenian yang berasal dan berkembang di wilayah Talo, Masmambang, Manna, hingga Kaur itu di zaman dulu hampir ada di setiap acara warga yang sedang berduka,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu, Drs Agus Setiyanti, Minggu.

    Namun, kesenian Nandeh justru mengalami gempuran dari media elektronik yang selalu mengadakan acara beraneka ragam pilihan, akibat kemanjuan teknologi yang membuat jangkauan siaran saat ini hampir merata dapat diterima di seluruh pelosok Nusantara.

    Opini :
    Menurut Agus, seorang penutur Nandeh akan bercerita seperti setengah menyanyi dan bertutur seperti meratap, serta layaknya dalang di Pulau Jawa, penutur Nandeh juga menggunakan properti yaitu sebilah kayu atau bambu yang berukuran satu meter untuk menopang dagu nandeh.

    “Jika di pulau Jawa kesenian wayang terus mengalami modifikasi, baik itu dalam properti yang digunakan seperti wayang terbuat dari karet lentur, sedangkan isi cerita yang dilakonkan terus berubah mengikuti perkembangan zaman dan masih diterima sampai sekarang,” katanya.

    “Tidak adanya sumber daya manusia yang berprofesi sebagai Nandeh juga semakin memperburuk keadaan, apalagi kebiasaan seorang kakek bercerita kepada anak cucunya sebelum tidur saat ini sudah hilang dan tidak lagi diberlakukan,” katanya.

  • 2. sh4l  |  Juni 9, 2010 pukul 9:45 am

    Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh……^_^

    nama: Sholihati Miu
    NPM : A1A008034

    jawaban tugas:
    1. Ide-ide pokok setiap paragraf yaitu sebagai berikut:

    Paragraf 1 :
    Salah satu kesenian daerah Bengkulu yaitu Nandeh sudah punah.

    Paragraf 2:
    Tidak adanya lagi penerus untuk menghidupkan kembali kesenian Nandeh.

    Paragraf 3:
    Pelakon Nandeh mirip dalang bercerita atau berdongeng, sehingga dapat menghibur orang banyak.

    Paragraf 4 :
    Seorang penutur Nandeh bercerita seperti setengah menyanyi dan bertutur seperti meratap.

    Paragraf 5 :
    Kesenian wayang banyak dimodifikasi dan isi ceritanya mengikuti perkembangan zaman.

    Paragraf 6 :
    Akibat kemajuan teknologi, Nandeh mendapatkan gempuran dari media elektronik.

    Paragraf 7 :
    Tidak adanya sumber daya manusia yang berprofesi sebagai Nandeh semakin memperburuk keadaan kesenian ini.

    Paragraf 8 :
    Upaya yang dilakukan Disbudpar Bengkulu yaitu mengadakan festival kesenian.

    2.
    Fakta :
    “Kesenian yang berasal dan berkembang di wilayah Talo, Masmambang, Manna, hingga Kaur itu di zaman dulu hampir ada di setiap acara warga yang sedang berduka,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Bengkulu, Drs Agus Setiyanti, Minggu.

    Namun, kesenian Nandeh justru mengalami gempuran dari media elektronik yang selalu mengadakan acara beraneka ragam pilihan, akibat kemanjuan teknologi yang membuat jangkauan siaran saat ini hampir merata dapat diterima di seluruh pelosok Nusantara.

    Opini :
    Menurut Agus, seorang penutur Nandeh akan bercerita seperti setengah menyanyi dan bertutur seperti meratap, serta layaknya dalang di Pulau Jawa, penutur Nandeh juga menggunakan properti yaitu sebilah kayu atau bambu yang berukuran satu meter untuk menopang dagu nandeh.

    “Jika di pulau Jawa kesenian wayang terus mengalami modifikasi, baik itu dalam properti yang digunakan seperti wayang terbuat dari karet lentur, sedangkan isi cerita yang dilakonkan terus berubah mengikuti perkembangan zaman dan masih diterima sampai sekarang,” katanya.

    “Tidak adanya sumber daya manusia yang berprofesi sebagai Nandeh juga semakin memperburuk keadaan, apalagi kebiasaan seorang kakek bercerita kepada anak cucunya sebelum tidur saat ini sudah hilang dan tidak lagi diberlakukan,” katanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Juni 2010
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: